San Francisco, sebuah kota yang tak pernah tidur, tiba-tiba tersandung ke dalam kegelapan. Sabtu yang seharusnya padat aktivitas berubah menjadi hari yang penuh ketidakpastian. San Francisco power outage atau pemadaman listrik massal melanda, memenggal aliran listrik ke sekitar 130.000 rumah dan bisnis. Angka ini setara dengan sepertiga dari seluruh pelanggan yang dilayani oleh Pacific Gas and Electric Co. atau PG&E di kota tersebut. Kondisi ini menciptakan pemandangan yang tidak biasa, dari lampu lalu lintas mati hingga dekorasi liburan yang redup. Kisah ini bukan sekadar tentang pemadaman, melainkan tentang sebuah kota yang berjuang melawan gangguan besar di tengah musim liburan.
Kapan dan Bagaimana Dimulainya Kegelapan
Pemadaman ini tidak terjadi secara serentak. Gelombang pertama PG&E outages dimulai pada pagi hari, menyapu kawasan West Side seperti Inner Sunset dan Richmond. Pelanggan mulai melaporkan kehilangan listrik sekitar pukul 09.40 pagi. Kemudian, secara bertahap, kegelapan merayap ke blok-blok lainnya. Sebuah pemadaman kedua menyusul tak lama kemudian, memperluas area terdampak hingga ke Presidio dan sebagian Jalan Market. Warga pun dibuat bingung dengan penyebabnya yang awalnya tidak jelas.
Puncak dari kekacauan ini terjadi sekitar pukul 14.15 siang. Sebuah kebakaran besar terjadi di dalam gardu listrik PG&E yang terletak di persimpangan Jalan 8th dan Mission. Petugas pemadam kebakaran dengan cepat bergegas ke lokasi setelah menerima panggilan darurat. Kebakaran ini diyakini menjadi pemicu setidaknya sebagian dari pemadaman di sore hari. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apa penyebab serangkaian pemadaman yang terjadi sebelum kebakaran gardu tersebut? Hingga sore hari, PG&E masih belum memberikan penjelasan rinci.
Dampak Nyata di Tengah Liburan: Bisnis dan Transportasi Lumpuh
Dampak dari pemadaman ini terasa sangat luas, terutama karena terjadi di akhir pekan sebelum Natal. Lalu lintas kota menjadi macet total karena lampu lalu lintas mati atau berkedip dalam mode darurat. Banyak pengemudi yang bingung harus beradaptasi dengan situasi ini. Di sisi lain, sistem transportasi umum juga ikut terganggu. Kereta BART terpaksa melewati stasiun Powell dan Civic Center yang tanpa listrik. Demikian juga dengan kereta Muni yang harus menghindari stasiun Van Ness.
Bisnis-bisnis lokal menjadi salah satu korban paling terpukul. Banyak pemilik usaha terpaksa menutup tokonya di tengah puncak musim belanja liburan. “Ini sangat menyebalkan,” kata Samantha Lado, seorang pekerja di Foghorn Taproom. Televisi di bar mereka mati dan bir menjadi hangat, menghancurkan harapan mereka untuk menarik kerumunan yang menonton pertandingan sepak bola. Pemilik Bazaar Cafe, Josh Johnson, harus meminta pelanggannya untuk pergi karena tidak bisa membuat espresso dan harus menjaga pintu kulkas tertutup. Kerugian tidak hanya dirasakan oleh pemilik, tetapi juga oleh karyawan yang kehilangan satu hari kerja.
Respons Resmi dan Ketidakpastian yang Menggantung
Menanggapi krisis ini, pemerintah kota San Francisco dengan cepat membuka pusat operasi daruratnya. Wali Kota Daniel Lurie pun merilis sebuah video, mengingatkan warga untuk berhati-hati di jalan. “Banyak lampu yang mati,” kata Lurie. “Tetaplah aman dan kami akan terus berkoordinasi dengan PG&E.” Respons ini menunjukkan tingkat keparahan situasi yang dihadapi kota.
Sementara itu, respons dari PG&E sendiri tergolong lambat. Perusahaan baru memberikan pernyataan publik pertama mereka melalui media sosial pada pukul 16.00 sore, beberapa jam setelah pemadaman meluas. Mereka menyatakan sedang bekerja dengan petugas pertolongan pertama dan pejabat kota. Namun, yang paling dikhawatirkan warga adalah tidak adanya jadwal pasti untuk pemulihan listrik. Banyak pelanggan menerima panggilan telepon otomatis yang menyatakan tidak ada perkiraan waktu pemulihan. Ketidakpastian ini meninggalkan puluhan ribu warga dalam kegelapan, baik secara harfiah maupun kiasan, menunggu jawaban yang belum kunjung tiba.
Berikut adalah kronologi singkat peristiwa San Francisco power outage tersebut: