Pasar keuangan global diguncang oleh pergerakan nilai tukar mata uang Jepang yang drastis. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, melontarkan peringatan tegas. Pemerintah Tokyo siap mengambil langkah tegas untuk meredakan gejolak yang dianggap berlebihan. Ancaman ini muncul tepat setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk menaikkan suku bunga, sebuah langkah yang seharusnya memperkuat yen. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Situasi ini menciptakan ketegangan baru di pasar valuta asing (forex) global.
Peringatan Keras dari Tokyo
Satsuki Katayama menyatakan kekhawatirannya secara terbuka. Ia mengamati adanya gerakan satu arah yang tajam dalam beberapa jam terakhir. “Kami waspada karena kami jelas melihat gerakan satu sisi yang tajam dalam setengah hari terakhir atau beberapa jam terakhir,” ujarnya. Pernyataan ini disampaikan usai menghadiri pertemuan online dengan para menteri dari negara-negara G7.
Selanjutnya, Katayama menegaskan komitmen pemerintah. Ia mengacu pada pernyataan bersama AS-Jepang yang ditandatangani pada September. Pernyataan itu menjadi landasan hukum untuk intervensi. “Kami akan merespons secara tepat terhadap gerakan yang berlebihan, termasuk yang didorong oleh para spekulan,” katanya. Intervensi, menurutnya, seharusnya hanya digunakan untuk melawan volatilitas yang ekstrem. Dengan demikian, sinyal dari Tokyo sangat jelas. Pemerintah tidak akan tinggal diam jika gerak nilai tukar yen terus terpuruk secara tidak wajar.
Reaksi Pasar dan Garis Batas 160 Yen
Pasca keputusan Bank of Japan, pasar langsung bereaksi. Dolar AS justru menguat tajam terhadap yen. Menjelang pukul 15:00 GMT, dolar AS terangkat hampir 1,2% ke level sekitar 157,38 yen. Kenaikan ini menandai hari terbesar sejak awal Oktober. Ironisnya, yen sempat melemah di bawah level 157 pasca peringatan dari Menteri Keuangan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya tekanan jual terhadap mata uang Jepang.
Banyak pelaku pasar memperkirakan pemerintah Jepang memiliki “garis batas” atau line in the sand. Level kritis tersebut diperkirakan berada di angka 160 yen per dolar AS. Prediksi ini didasarkan pada aksi intervensi terakhir pemerintah. Pada Juli 2024, Tokyo turun tangan ketika yen melemah melewati level 160, yang merupakan level terlemah dalam 38 tahun. Oleh karena itu, semua mata kini tertuju pada level psikologis tersebut.
Konteks Kebijakan Moneter Bank of Japan
Di sisi lain, Menteri Keuangan Jepang juga memberikan pandangannya mengenai keputusan Bank of Japan. Menurutnya, keputusan menaikkan suku bunga didasarkan pada tren upah dan harga. Tujuannya adalah untuk mencapai target inflasi 2% secara berkelanjutan dan stabil. “Saya menghargainya sebagai demikian,” katanya.
Ia menambahkan bahwa ia berharap Bank of Japan terus bekerja sama dengan pemerintah. Sinergi ini penting untuk menjalankan kebijakan moneter yang tepat. Targetnya adalah mencapai sasaran inflasi seiring dengan peningkatan upah. Pernyataan ini menunjukkan adanya koordinasi antara kementerian keuangan dan bank sentral. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup untuk menahan tekanan di pasar forex.
Masa Depan Yen di Tengah Ketidakpastian
Akibat dari semua peristiwa ini, masa depan yen penuh dengan ketidakpastian. Pemerintah Jepang telah menunjukkan tekadnya untuk mengintervensi, namun momentum pasar saat ini sangat kuat. Para spekulan sepertinya masih menguji batas kesabaran Tokyo.
Di satu sisi, Bank of Japan mencoba melakukan normalisasi kebijakan moneter. Di sisi lain, pasar merespons negatif karena panduan masa depan yang kurang jelas. Akibatnya, Menteri Keuangan Jepang harus berada di garis depan untuk menjaga stabilitas gerak nilai tukar. Pada akhirnya, langkah intervensi mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa jika kejatuhan yen terus berlanjut. Semua pihak kini menunggu dengan seksama langkah selanjutnya dari pemerintah Jepang.